Sabtu, 24 Juli 2010

ASPEK SENI ZEN DALAM LUKISAN TARFI ABDULLAH



CATATAN DARI DIALOG SUATU HARI

Oleh : Putu Sugih Arta


Berkunjung ke rumahnya, di belakang Museum NTB merupakan anugerah Tuhan tak terkira rasanya. Tidak istimewa sekali, namun aura rumah yang asri menggugah hati agar tetap eling terhadap sesuatu yang realistis tentang bagaimana memaknai hidup agar tetap hidup tertancap pada relung kalbu.

Awalnya, dari halaman rumah yang menyapa, sebelum masuk ke ruang tamu, penuh suasana kehidupan, keramahan mahluk Tuhan yang dilimpahi kasih sayang. Tak terasa, menunggu sang pemilik membukakan pintu.

Satu, dua dan bahkan sepuluh ketukan di pintu kaca sampai akhirnya Pak Haji dengan kesederhanaannya, muncul dari balik pintu kaca. Hanya menggenakan kaos oblong warna hitam bertuliskan Visual Arts dan celana pendek yang kesannya akrab. Pak Haji Tarfi menyuguhkan nilai keanggunan tentang filosofis karya cipta manusia yang penuh dengan realita ekspresi tak pernah kunjung padam. Maka, tak disangsikan lagi sang pengamat lukisan Sudarmaji (Alm) menyatakan karya-karya H.M. Tarfi Abdullah terkesan Ekspresi Magic saat pamerannya di Jakarta (1993 -lalu). "Saya sebenarnya tak mau terikat pada aliran-aliran tertentu, saya hanya mengangkat realita di dunia ini. Orang lain menafsirkan dengan susut pandangnya. Saya tetap pada diri saya, yang selalu menatap hidup dengan kesederhanaan dan penuh kasih sayang,seperti bayi dan ibunya,"ujarnya merendah.

Demikian pula ia menata rumah, dengan penuh kasih sayang sehingga keluarganya pun penuh nuansa rukun dan damai, sehingga realita yang ditangkap oleh sudut batinnya tertuang lugas di atas kanvas.

Lebih menukik kedalaman karya, goresan Pak Haji Tarfi yang halus, berbanding terbalik dengan pilihan warna yang tajam mengisyaratkan ia sebenarnya sadar dalam menghayati proses melukisnya.

Kegelisahannya pada bentuk-bentuk kesenian komunitas Sasak mengingatkan dirinya akan tempat kelahirannya yakni Lombok Timur, tepatnya pada sebuah desa yang bernama Kelayu.

Saat saya dipersilahkan naik ke lantai dua, ke lokasi laboratorium pribadinya. Saya sempat terketuk pada dinding di mana terdapat lukisan topeng tradisi Sasak. Lukisan topeng Amaq Abir, mengingatkan saya bagaimana seni teater tradisi ini berkontemplasi dalam gerak industri yang berlatar teknologi. Teater tradisi yang tumbuh di desa-desa ini sebagai sarana mengaktualisasi budaya mulai terperangah. Dan, sudah semestinya mulai menggeliat bertransformasi pada sketsa pasar. Sehingga tak mengalami kepunahan, bahkan justru menjadi kiblat teater timur yang kaya akan nuansa filosofis dan religiusitas sehingga idealisme tetap bertahan dalam konten berkesenian.


Peradaban baru proses berkesenian sebenarnya bukan sebagai rintangan andaikata para seniman tanggap, lantas bijak menyingkapi bahwa dunia imajinasi akan menjadi realistis sejauh kemampuan mengadaptasi dalam dunia nyata itu hadir di antara kita.
Konsep-konsep mendasar tentang realis, bagi para seniman bukanlah hal yang asing bahkan sangat dekat. Sehingga, karya seniman bukan suatu mimpi, melainkan kenyataan yang menghidupi tampilan karya tersebut.

Konsep mendasar tentang proses berkesenian, bagi Pak Haji Tarfi menjadi penting tatkala karya-karya dengan lanskap teratur dan rapi menjadi pilihan dan bahkan merupakan temuan beliau. Sehingga tak terkesan sebagai seniman nantinya "absurd" dan tergerus arus yang dibawa dari konsep berkesenian komunitas lain yang justru mempunyai greget labih nakal dan berani.

Sebagai pembanding, boleh saja. Namun untuk larut, nanti dulu. Sehingga sebagai seniman tak terkesan narcis, bangga pada karya sendiri padahal setelah dikonsumsi masyarakat seni justru dihujat. Oleh karena itu, Pak Haji Tarfi dengan idealismenya membangun benteng pertahanan, sedemikian rupa, sehingga sekecil apapun gangguan terhadap proses berkaryanya akan mudah dinetralisir. Sederhananya, pak Haji Tarfi punya kiat yang mampu menjawab pertanyaan tentang konsep, kenapa harus demikian ?

Karya-karya lukisan yang bermula, berbicara tentang seni teater tradisi Cupak Gurantang yang ternyata pun mendapat tekanan arus modernisasi, sampai seni teater wayang sasak yang megap-megap dalam pelestariannya ditangkap ruang imajinasi Pak Haji Tarfi sehingga tak menutup kemungkinan di masa yang akan datang, andaikata kiamat dalam dunia seni teater tradisi terjadi, karya seni lukis menjadi pelestari menjadi penting.... Kenapa tidak ? Justru dalam mencari kebenaran sejarah, dengan karyanya Lenardo Da Vinci, sang maestro lukis, membuka tabir yang tertutup rapat perlahan namun pasti.


Pelukis merupakan pekerja seni yang terbalik dengan manusia biasa. Pelukis kalau keluar rumah berarti istirahat, sedangkan manusia kebanyakan kalau pulang ke rumah artinya istirahat. Dalam bekerja pelukis membutuhkan ruangan yang tak boleh diganggu orang lain. Dalam kesendiriannya ia pun berdialog dengan dirinya sendiri, tentang komposisi, pilihan warna dan titipan pesan yang ditangkap melalui indra keenamnya.Sehingga tak dipungkiri lagi, karya masterpiece muncul dan menghiasai pelataran seni rupa dunia, entah yang digarap Lenardo da Vinci, Sallvador Dali, Raden saleh, Affandi, Basuki Abdullah, maupun Lempad, selalu memilki keunikan tersendiri dan tiada taranya. Dan, seniman akademis akan mengklasifikasikan ke dalam aliran-aliran sejenis dalam proses berkarya. Sehingga bertebaranlah di muka bumi, konsep-konsep berkesenian yang kemudian dari generasi ke generasi diwarisi seniman muda.

Sebagai sosok seniman, H.M.Tarfi Abdullah sudah bisa dibilang berumur, sejak muda ia lebih akrab dengan ruang kontemplasi daripada ruang manusia. Sehingga ia tercipta menjadi sosok religius yang dekat dengan Sang Khalik. Saking kuatnya, karya lukisannya sulit ditiru orang,"andaikata lukisan Tarfi tidak ditandatangani dijajarkan dengan karya pelukis lain di kota lain. Bagi saya, gampang sekali mengenal lukisan karya beliau karena mempunyai ciri khas yang sangat dekat dengan saya ,"tutur H.Riyanto Rabbah, wartawan dan penyair NTB suatu hari pada saya.

Lukisan pak Haji Tarfi, sangat halus, tarikan dan goresan warna yang dipilihnya begitu hidup, kendati menurut orang mengolah warna gelap membutuhkan suatu kepiawaian sendiri. Bagi, Pak Haji justru tiada masalah malah tanpa warna gelap jadi tak enak dipandang.

Pilihan siluet gelap pada karya-karya Tarfi Abdullah, menurut saya, justru realita yang ditangkap dalam kehidupan manusia, merupakan kegelapan yang panjang, penuh tabir misteri, dan tak pernah terpecahkan selama kehidupan itu sendiri hidup. Dan, manakala kematian semakin akrab dirasakan maka peluang membuka tabir misteri yang penuh dengan pertanyaan-pertanyaan kenapa kehidupan ini begini, dan kenapa kehidupan orang lain begitu semakin mengundang perhatian untuk diabadikan di atas kanvas.Sosok Tarfi, telah melakukan itu, kanvasnya yang tak pernah berhenti mengisahkan kehidupan demi kehidupan dalam ruang kasih sayang antar manusia, lingkungan dan Tuhan.

Rabu, 14 Juli 2010


Catatan Lukisan Andrew Jack ( 1963 - 2009 )

ZEN, MEDITASI DAN PROSES KREATIF TIMUR
Oleh : Putu Sugih Arta

A

Dalam perjalanan sunyi, sang seniman mencari maknawi kehidupan ia harus berperang dengan sang diri sejati. Perang dalam medan kontemplasi, akan mengubah pemikiran yang konservatif menjadi pikiran terkendali dalam menyongsong perubahan. Karena perubahan itu sendiri, adalah kesejatian abadi di jagad raya. Ada tiga sebab perubahan dalam berkesenian, pertama pola yang merupakan kontruksi dari teori dan pengalaman sehingga pikiran menjdi terbentuk dengan sedemikian rupa untuk memecahkan permasalahan-permasalahan yang timbul akibat keinginan-keinginan manusiawi. Kemudian gerak yang merupakan dinamika yang telah terpola. Dan, terakhir adalah tingkatan-tingakatan yang merupakan tangga pendakian menuju pada puncak harapan.

Seni zen, sebuah ilmu dasar dalam seni yang diyakini oleh komunitas Asia Timur terutama Tiongkok mengalami perkembangan dari abad ke-12 Masehi, selanjutnya seni Zen menjadi popular di dunia berkat jasa Dogen dan Eisai setelah mereka berguru di Tiongkok. Seni Zen dalam pengungkapan karya seni lukis sebagian besar memiliki ciri khas sumi-E dan Enso sedangkan dalam puisi yaitu haiku. Dalam perjalanan penganut seni zen ini berusaha keras untuk mengungkapkan intisari sejati dunia melalui gaya impressionisme yang tak "dualistik".




B.

Aliran seni lukis impresionisme, jelasnya mengambil obyek di luar ruangan. Pada alam bebas dan tak terikat pada bentuk-bentuk khusus. Dan, yang lebih menarik justru aliran ini manakala si pelukis mampu menuangkan hasil karyanya dalam konten kesan yang rumit. Hasil karya sang pelukis mempunyai nilai tinggi.
Lukisan impresionis, bukanlah suatu karya imajinatif, melainkan realistis. Konsepnya, berpulang pada kesan apa yang ditangkap sang pelukis dalam realita yang telah dilakoninya selama proses berkarya.

Oleh karena menangkap kesan pada ruang terbuka maka efek sinar yang menjadi penting tatkala karya lukis impresionis, mengalami penggarapan inten. Begitupula dalam memilih warna, karena selalu setia pada cahaya, maka para pelukis impresionisme sangat menghindari warna gelap. Kata kunci impresionis, adalah obyek alami, sinar dan warna.

Namun, andaikata kita bertutur mengenai karya impresionis Andrew Jack yang berjudul : 3_zen _circle_viii, ada sesuatu yang menarik untuk dibahas, selain unik juga teknik yang ditampilkan cukup piawai dan luar biasa. Karena aura meditasi zen begitu kuat pada lukisannya. Biasanya, seorang penganut seni zen akan selalu bekerja menghadap dinding dengan mata tertutup, hal mana, tentu menciptakan ruang konflik bagi aliran seni impresionis yang bekerja menangkap sinar dan efek warna pada alam terbuka.

Bagi saya sah-sah saja, karena keduanya bermuara pada proses kreatif. Karena, dalam seni zen justru pelakunya diharapkan mampu menangkap sinar murni yang dipancarkan dari inti cahaya, melalui proses prana, mengatur sedemikian rupa ritme nafas sehingga si pelaku akan mengalami proses kesadaran kedua pada lapis kehidupan kedua yang lebih halus.


C.

Menguraikan kembali karya Andrew, yang terkesan abstrak. Namun, pada dasarnya adalah impresionis menurut saya, tidaklah bisa kita lepaskan dengan karya lukis terdahulunya yang melukis potret diri sang istri tercinta yakni, Mis Arwinda Hurip, di mana dalam tematik karya yang ditampilkannya penuh kesan sesaat sehingga karya itu hidup dan berjiwa.

Namun, tatkala ia harus dihadapkan pada pilihan melukis alam ruh yang penuh energi dan putih. Andrew Jack mendapatkan kenyataan, inilah yang terjadi sebenarnya. Wajar. Fenomena. Terbuka.

Penuturannya tentang perjalanan spirit zen tertumpu pada lingkaran gelap yang menjadi pilihannya. Warna gelap (hitam) yang bukan merupakan warna bagi kaum impresionis, justru dalam pemberontakan impresionisnya, naluri yang diisi kekuatan meditasi zen menemukan ‘sebenarnya demikian tapi tidak demikian ’ mengakibatkan ia secara tegas menyimpulkan lingkaran gelap adalah warna.

Andaisaja, dibandingkan dengan gaya impresionis Pierre-Auguste Renoir. Karya impresionis dari Andrew Jack tentang potret diri dalam sudut konvensional, tak terlalu jauh perbedaannya. Bahkan lebih berani, dan cukup menantang.

****dimuat Koran Pak Oles Edisi Juli 2010